Alamat yang Tak Pernah Dijemput Langit
Karya: Dian NovitasariSeseorang menuliskan rumah
pada tulang punggung hujan,
lalu menyerahkan alamatnya
kepada angin
yang sejak mula ditakdirkan
tak pernah tiba di kata pulang.
Setiap senja,
langit datang
membawa bayangan surat
tanpa nama pengirim.
Pintu belajar membuka diri,
tetapi langkah
selalu tiba
di halaman yang lain.
Malam menumbuhkan lumut
pada nomor rumah,
hingga waktu
tak lagi mampu membacanya.
Barangkali yang tersesat
bukan jalan,
bukan pula langit
melainkan sepasang nama
yang pernah percaya
bahwa satu alamat
cukup untuk menampung
seluruh musim.
Ketika fajar lewat,
ia tidak mengetuk.
Ia hanya memastikan
rumah itu
tetap menghadap
ke arah penantian.
Selat Penuguan, 30 Juni 2026