Langit tak pernah diam
Karya: I Gusti Ayu Ketut Wenten PrashantiLangit tak pernah diam.
Tuhan memberkati kita
Permintaan terkabul menjadi wujudnya
Di antara sunyi yang tak bersuara,
kupeluk doa dengan kedua tangan yang gemetar.
Tak ada jawaban yang jatuh seketika,
hanya langit yang terus berubah warna,
seolah sedang merangkai waktu
agar harap menemukan tempatnya.
Aku pernah mengira diam adalah penolakan,
hingga hujan turun membawa pengertian.
Setiap tetesnya menghapus ragu,
menumbuhkan keyakinan
bahwa yang ditunda
belum tentu ditiadakan.
Langit tak pernah diam.
Ia mengirim fajar setelah malam paling panjang,
meniup angin pada daun yang hampir menyerah,
dan mengajarkan bahwa kesabaran
adalah bahasa yang paling dipahami
oleh doa-doa yang tulus.
Lalu, tanpa suara yang megah,
jawaban itu datang.
Bukan seperti yang kubayangkan,
melainkan seperti yang kubutuhkan.
Ternyata Tuhan tidak sekadar mengabulkan pinta,
melainkan menyempurnakan maknanya.
Kini setiap kali kutengadah,
aku tak lagi bertanya kapan.
Sebab langit tak pernah diam,
dan setiap geraknya mengingatkanku
bahwa tak ada doa yang benar-benar hilang
ia sedang menempuh jalan pulang
menuju waktu yang paling tepat.
Mataram 28 Juni 2026