Bait yang Dituliskan Semesta
Karya: Karisma Wahyu Ning TyasTanpa sengaja menjadi cinta.
Tak pernah kudengar gemuruh angin mengeja namamu.
Tak pula kulihat semesta menitipkan pertanda tentang kedatanganmu.
Namun kau hadir tanpa aba-aba dan tanpa diminta.
Seperti fajar yang menyelinap melalui celah jendela di setiap paginya.
Membawa terang pada ruang yang lama akrab dengan sepi.
Kau adalah harapan yang tampak sederhana,
namun cukup berani untuk membuatku percaya kembali.
Pernahkah kau melihat seorang anak berdiri di bawah bentangan langit malam,
menengadahkan kedua tangannya ke arah gugusan cahaya, lalu bermimpi memeluk satu bintang?
Akulah anak itu.
Menggenggam secuil kehangatan dari cahayamu,
meski ku tau langit dan bumi dipisahkan oleh jarak yang tak sedikit.
Maka biarkan aku mengagumimu,
sembari menyisihkan luka-luka yang pernah membiru di dada.
Biarkan aku menuliskan namamu dalam aksara paling sunyi,
yang hanya dimengerti oleh hati dan waktu.
Izinkan aku mendekap hadirmu,
tanpa tergesa menghitung musim yang berlalu.
Melewati setiap detak yang berlarian dalam dada,
seiring napasmu yang menjadi irama bagi segala doa.
Dan bila kebahagiaan memiliki pusatnya,
aku ingin menemukannya pada arah yang sama dengan tempatmu berdiri.
Sebab tanpa sengaja,
kau telah menjadi bait terindah yang dituliskan semesta pada lembar hidupku.
Ponorogo, 1 Juni 2026