Doa yang terjawab
Karya: Marcelina KrisfioraSajadah ini saksi yang paling bisu,
menyimpan rona air mata yang luruh satu demi satu.
Bertahun-tahun aku mengetuk langit yang sunyi,
membawa sekeping pinta yang hampir mati direndam sepi.
Ada perih yang mencengkeram dada begitu ketat,
setiap kali malam memaksa jiwaku mengingat:
sebuah keinginan yang begitu megah,
namun takdir seolah enggan memberi arah.
Aku menangis, memohon hingga suaraku habis,
berteman retak hati yang kian mengiris.
Lalu hari ini, pintu itu terbuka lebar.
Apa yang kupinta kini mewujud, nyata dan berpijar.
Keinginan kuat itu tak lagi sekadar angan,
ia telah berdiri tegak, memelukku dalam kenyataan.
Namun, mengapa ada sesak yang mendalam di hulu hati?
Melihat doa yang terjawab ini, air mataku justru kembali mati-matian sembunyi.
Mungkin karena aku ingat betapa berdarahnya perjalanan ini,
betapa hancurnya aku sebelum Engkau berkata, "Terjadilah hari ini."
Aku bersujud lagi, kini bukan untuk meminta,
melainkan memeluk rasa syukur yang berselimut duka.
Doaku telah dijawab, takdirku telah digenapi,
namun sisa kesedihan kelam itu, masih tertinggal di sudut sepi.
Andenohu, 27 Juni 2026