Buram
Karya: MositteaSeribu kali saya berpikir, kenapa puncak gunung yang renta dipupus hujan tak jua longsor. Sedang kian hari, kian perih terasa mencabik-cabik deruan pembangkang ini. Tentang waktu, tentang kabar haru, tentang senyum-senyum yang tak lagi meliuk.
Besoknya dikau melapor, katanya, “Tak pantas.” Lalu dalam dua puluh empat waktu aku tak kausapa.
Nan kerdilnya saya menanyakan, ”Sebab apa dikau berpaling saat saya hadir penuh amarah, sedang saya mengoceh sebab kaulalai akan benarnya.”
Lalu mengapa bisa hati tak jua peka? Sebab mengagumimu yang amat tampak istimewa, membuat saya linglung akan kerlipmu di setiap kesempatan.
Buram sudah. Saya buta, kah?
Ternate, 1 Juni 2026