Nafi'atul Ummah - Menjahit Fajar dari Abu Senja (LCP 47)

📅 27 Juni 👁 Memuat...

Menjahit Fajar dari Abu Senja

Karya: Nafi'atul Ummah


Di ambang pintu
yang tak lagi mengenal langkahmu,
kutitipkan harap kepada angin
ia berkelana jauh,
namun tak pernah tersampaikan.

Sejak namamu luruh bersama waktu,
aku belajar mengeja kehilangan
dengan telapak yang mengeras
dan pundak yang memikul dua kehidupan.

Orang-orang menyebutku janda.
Aku memilih menyebut diriku
perempuan yang menanam matahari
di tanah yang berkali-kali dirundung hujan.

Tak ada lagi tangan yang menggenggam,
hanya doa yang kupinta
menjadi keberanian.
Dari reruntuhan mimpi,
kubangun rumah yang tetap bernapas.

Bila kelak takdir mempertemukan kembali,
jangan cari perempuan
yang dahulu menangis.
Sebab yang kau tinggalkan hanyalah luka,
sedang yang tumbuh darinya
adalah cahaya.


Lamongan, 27 Juni 2026