MENAKAR TAKZIM
Karya: Nayla Isyatur RodhiaKupanggil kau “yang mulia”
Di ujung gundah yang riuh
Rautmu seumpama purnama yang utuh
Menyulut sumbu di relung gua yang membatu
Adakah yang lebih ranum dari ronamu?
Jika ada, aku pun kembali menatapmu
Pada rupa yang tak pernah kutangkap
Sebab, mengagumimu adalah serenade yang senyap
Gagap aku menatap saujana riwayatmu
Mengalun suci pada lisan yang keruh
Kuratap hangat pada nasibku:
“Mengapa bukan aku si janda itu?”
Lalu aku tersentak pada lancangnya sebaris tanya
Bagaimana bisa aku yang penuh jelaga, ingin merebut singgasana?
Sedang untuk diingat wujudku saja,
Harus bergelut dengan sejuta takzim yang berebut tempat
Maka, di sisa ruang ini, biar kurawat cemburu yang keras kepala
Hingga kelak di hadapanmu...
Asmaku sempat kau eja
Sidoarjo, 1 Juni 2026