SEMU SATU NAMA
Karya: PERDIANSYAHAlcyone berpijar sendiri di ujung langit yang jauh,
seperti pandangmu yang singgah sekali, lalu sunyi tak pernah jatuh.
Di hulu Lethe aku berdiri, menghitung arah arus,
hilirnya membawa namamu menjauh tanpa pernah putus.
Niphetos mekar hanya sekali dalam musim yang panjang,
begitu harapku padamu tumbuh diam, layu tanpa pernah kau pandang.
Cotopaxi berdiri kukuh menatapmu, namun kabut menutup wajahnya,
seperti hatiku menyimpan rindu, tak sanggup menunjukkan isinya.
Zhinu menanti kekasihnya di seberang Bima Sakti yang tak surut,
sebab jarak antara aku dan kau tak pernah benar-benar bisa ditempuh.
Thuban dulu jadi arahku saat tersesat di malam,
kini kau terlupakan oleh waktu, namun harapku tak pernah padam.
Lethe boleh mengalir membawa lupa, Cotopaxi diselimuti kabut baru,
namamu tetap mengalir abadi, walau tak pernah benar jadi milikku.
Bogor, 24 Juni 2026