Jeda
Karya: Ricardus AsbanuAngin sepoi menghembus ke arah daun telinga
membawa kabar yang tak sempat tereja kuping
mendesis seperti gulungan ombak yang pecah ke tepian
mendebar tiba tapi terlampau samar pada pecahnya suara di ambang jarak.
Jauh ke lubuk, tulus menebar ikhlas pada riuhnya kenyataan
Koda dan kata seperti suling yang tak henti berbunyi.
Sementara raut yang ayu itu tak pernah singgah dalam mampi,
tarian rindu terus dirayakan oleh resah yang tak lekang di lekuk ingatan.
Jarak sejatinya bukan jeda antara kabar dan suara yang sulih dari beranda waktu yang bisu.
Aku pikir hanya raut yang butuh jeda untuk saling menatap
lalu kembali menata rindu untuk menjadwalkan temu
tapi ternyata kau tak pernah menginginkan bunga tumbuh di ruang rindu.
Di selat waktu yang berantakan kau tak ingin kembali
bercengkrama mengurai rindu yang telah lama terkekang
atau kembali seperti rindu yang semula tiba menginginkan temu,
pelukan pertamanya dan beberapa kata ingin kau ucapkan di ruang sunyi.
Kupang, 27 Juni 2026