Kilat di atas paling pahit
Karya: Ridho Mae'saPratamaAku...
yang kian erat mendekap pijar kilatnya,
sepasang mata yang enggan berpaling dari nyala,
meski hanya sekejap, iya memaku Sukma,
menelan pelangi hingga menjadi jelaga yang gulita.
Aku...
yang terbelenggu pada kilatan tanpa jeda,
di dalam gelap yang bising, mengerang penuh rahasia,
lalu ia tumpah, melampaui asinnya samudra,
seraya berbisik: "ini bukan sekadar garam yang mendera, namun pahit yang melampaui segala".
Cilacap, 4 Juni 2036