๐Harap yang Tertinggal di Ujung Kata๐
Karya: SILFIA๐ HARAP YANG TERTINGGAL DI UJUNG KATA
Ada seuntai harap yang kusimpan rapi,
Di ruang paling sunyi dalam palung hati,
Tak berani terucap, tak berani terungkap,
Hanya menjadi bisik yang tenggelam sendiri.
Bagaikan bunga yang mekar di balik dinding,
Elok rupanya namun tak terjamah pandang,
Begitu hasrat yang bersemi perlahan,
Hanya aku yang tahu, hanya aku yang rasakan.
Setiap kali bibir ingin merangkai kalimat,
Selalu terhenti oleh ragu yang menjerat,
Takut kata itu mengubah apa yang ada,
Takut harap itu justru menjauhkan yang dekat.
Kutitipkan pada angin yang berhembus lembut,
Semoga ia membawa pesan tanpa suara,
Namun angin hanya lewat lalu pergi begitu saja,
Membawa doa tanpa menyampaikan makna.
Di bawah rembulan yang memancar cahaya pudar,
Kutulis rasa di atas lembaran bayang,
Saat fajar menyapa dengan sinar keemasan,
Tulisan itu lenyap, kembali diam terpendam.
Bukan jarak yang menjadi satu-satunya sekat,
Namun keberanian yang belum tumbuh sempurna,
Bagaikan sungai yang terhenti di tengah alur,
Tak sampai ke lautan, hanya menggenang tenang.
Sering terlintas pandangan yang memikat jiwa,
Senyum yang menjadi alasan segala harap,
Namun saat ingin mengungkapkan apa yang ada,
Kata terasa berat, terjebak di kerongkongan.
Harap ini tumbuh senyap, perlahan, pasti,
Seperti akar yang menjalar di dalam tanah,
Tak terlihat oleh mata yang memandang luar,
Namun makin hari makin kuat mengikat rasa.
Kusimpannya dalam setiap hembusan napas,
Menjadi teman setia di kala sepi menyapa,
Meski tak tersampaikan, ia tetap ada,
Sebagai bagian dari kisah yang tak terucap.
Mungkin takdir memang mengatur demikian rupa,
Ada rasa yang cukup hanya untuk dirasakan,
Bukan untuk diumbar, bukan untuk didengar,
Hanya rahasia antara hati dan waktu yang berjalan.
Setiap pertemuan terasa singkat namun berharga,
Setiap perpisahan menyisakan tanya yang panjang,
Apakah ia pernah merasakan hal yang sama?
Atau harap ini hanyalah mimpi yang kuhidupi sendiri?
Kutulis namanya di atas permukaan air,
Namun ia segera hilang terbawa arus mengalir,
Begitu kata yang ingin kusampaikan,
Tak pernah sampai, hanya menjadi kenangan samar.
Langit yang sama memayungi kita berdua,
Namun tak ada jembatan yang menyambungkan rasa,
Harap ini terbang tinggi bagai burung tanpa arah,
Ingin pulang, namun tak tahu tempat yang tepat.
Tak ingin memaksakan apa yang belum pasti,
Tak ingin mengganggu ketenangan yang tercipta,
Maka biarlah harap ini tetap di sini saja,
Tersimpan rapi, meski tak pernah tersampaikan.
Waktu terus melangkah membawa musim berganti,
Namun rasa di sanubari tak berubah sedikit pun,
Harap yang terpendam tetap menyala perlahan,
Bagaikan lilin yang tak padam meski redup cahayanya.
Sering kuajak bintang menjadi pendengar setia,
Menceritakan segala yang ingin kusampaikan,
Bintang hanya berkelap-kelip tanpa jawaban,
Membiarkan rahasia ini tetap menjadi milikku.
Ada kehangatan dalam rasa yang tersembunyi,
Meski tak dibalas, meski tak diketahui orang,
Karena berharap dan mencintai tak selalu harus,
Mendapat jawaban atau diakui oleh dunia.
Kata-kata yang tak sempat terucap itu,
Berubah menjadi butiran doa yang terpanjat senyap,
Semoga segala kebaikan selalu menyertai langkahnya,
Meski aku tak menjadi bagian dari jalan hidupnya.
Seperti hujan yang turun di lembah sunyi,
Membasuh bumi namun tak ada yang melihatnya,
Begitu harap ini mengalir tanpa tujuan pasti,
Hanya memberi rasa, tanpa meminta balasan apa pun.
Mungkin suatu hari nanti, jika waktu mengizinkan,
Rahasia ini akan menemukan jalannya sendiri,
Namun jika tak pernah tiba waktunya sekalipun,
Aku tetap bersyukur pernah memiliki rasa ini.
Tak ada penyesalan yang terasa mendalam,
Hanya kelembutan yang menyelimuti jiwa,
Karena harap yang tak tersampaikan pun indah,
Ia menjaga kemurnian rasa sebelum diuji kenyataan.
Setiap kali melihatnya melangkah pergi menjauh,
Ada sesak di dada namun disertai ketenangan,
Karena aku tahu, harap ini cukup ada di sini,
Tanpa perlu mengubah apa yang sudah tercipta.
Kutitipkan pada angin malam yang berhembus lembut,
Kutitipkan pada sinar fajar yang menyapa pagi,
Semoga tanpa kata dan suara, ia dapat merasakan,
Bahwa ada hati yang selalu mendoakan kebaikannya.
Harap ini takkan pernah pudar dimakan usia,
Tetap utuh bagaikan lukisan yang terjaga indah,
Meskipun tak pernah dibuka untuk dilihat mata,
Namun keelokannya terasa mendalam bagi pemiliknya.
Mungkin inilah cara semesta mengajarkan makna,
Bahwa tak semua rasa butuh didengar oleh telinga,
Tak semua harap butuh diwujudkan secara nyata,
Cukup tulus, cukup ada, itu sudah sangat berharga.
Aku menjaganya dengan sepenuh ketulusan,
Tak membiarkannya berubah menjadi beban berat,
Biarlah ia tetap menjadi harap yang lembut,
Yang tak sampai tujuan, namun tak pernah hilang.
Setiap detik yang berlalu menjadi bukti nyata,
Bahwa rasa ini mampu bertahan dalam keheningan,
Tanpa janji, tanpa pengakuan, tanpa kepastian,
Hanya mengandalkan ketulusan yang terpendam.
Maka biarlah ia tetap menjadi rahasia suci,
Antara aku, hatiku, dan Yang Maha Mengetahui,
Harap yang tertinggal di ujung kata dan waktu,
Tetap hidup, tetap indah, meski tak tersampaikan.
Ia mengajarkan bahwa rasa yang tulus tak selalu,
Harus memiliki atau dimiliki agar terasa nyata,
Terkadang ia cukup menjadi perasaan murni,
Yang tumbuh, ada, dan abadi dalam keheningan.
Sampai kapan pun waktu terus melangkah pergi,
Harap ini tetap terjaga di tempatnya sendiri,
Tak pernah terucap, tak pernah tersampaikan,
Namun menjadi bagian terindah dari perjalanan hidupku.
Kota Banda Aceh, 23 Juni 2026