JEJAK DOA DI PINTA TAKDIR
Karya: Agus SufyaniAku pernah meletakkan namaku
Di antara langit yang membisu
Dengan tangan yang gemetar,
Aku menitipkan segala yang tak mampu dijelaskan
Bukan sekali.
Bukan pula dua kali.
Ada ribuan lirih yang kugantungkan pada sepi,
Ada jutaan air mata yang kupeluk sendiri.
Sering kali aku bertanya,
Mengapa doa-doa itu seperti burung yang terbang jauh,
Menghilang tanpa kabar,
Tanpa tanda ia akan kembali.
Namun waktu adalah guru yang pandai menyimpan rahasia.
Ketika langkahku hampir menyerah,
Ketika keyakinanku nyaris runtuh oleh kenyataan,
Tuhan datang dengan cara yang tak pernah kuduga.
Saat itu aku sadar,
Doa tidak pernah tersesat.
Ia hanya sedang menempuh jalan yang lebih panjang
Untuk menemukan jawaban yang paling tepat.
Apa yang dahulu kupinta dengan tangis,
Kini hadir bersama senyuman yang tak mampu kusembunyikan.
Apa yang dahulu hanya menjadi bisikan dalam sujudku,
Kini menjelma nyata dalam hidupku.
Dari sana aku belajar tentang waktu,
Bahwa Tuhan tidak selalu menjawab sesuai maumu,
Tetapi selalu menghadirkan yang terbaik untuk hidupmu.
Maka hari ini aku menengadah kembali,
bukan untuk meminta lagi,
melainkan untuk mensyukuri.
Sebab kini telah kusaksikan sendiri,
bagaimana doa yang lahir dari hati,
berlayar menembus sunyi,
lalu kembali sebagai bukti.
Dan aku percaya hingga nanti,
tak ada doa yang benar-benar pergi,
karena setiap yang dipanjatkan dengan sepenuh hati,
akan bermuara pada jawaban yang telah Tuhan tetapkan sejak dini.
Sebab langit mungkin tampak sepi,
namun Tuhan tak pernah berhenti menyimak isi hati.
Tangerang, 23 Juni 2026