NAMA YANG TENGGELAM
Karya: Yosua Imanuel Ompusunggu"NAMA YANG TENGGELAM"
Aku pernah hidup
di antara riuh tepuk tangan
dan nama yang dipanggil berulang-ulang
seperti doa
yang tak pernah selesai diaminkan.
Namun waktu ternyata pengkhianat
ia mencuri perlahan
warna dari kenangan,
meninggalkan wajah-wajah asing
di tempat yang dulu kusebut rumah.
Kini aku berjalan
di lorong-lorong sepi ingatan manusia,
menjadi bayangan
yang bahkan cahaya pun enggan menyentuhnya.
Orang-orang sibuk membangun masa depan
sampai lupa
ada masa lalu
yang pernah berdarah demi mereka.
Aku adalah suara
yang tenggelam di antara bising dunia.
Aku adalah nama
yang kalah oleh nama-nama baru.
Aku adalah kisah
yang dilipat rapi
lalu disimpan
di sudut paling gelap sejarah.
Lucu, bukan?
Dulu mereka berkata,
“Jangan pergi, kami membutuhkanmu.”
Kini ketika aku benar-benar hilang,
tak ada satu pun
yang sadar ada ruang kosong
yang ditinggalkan.
Aku melihat dunia berubah:
anak-anak tumbuh tanpa mengenal akar,
janji diucapkan tanpa makna,
dan manusia saling melewati
tanpa sempat saling mengingat.
Segalanya bergerak terlalu cepat.
Perasaan diganti notifikasi.
Kesetiaan diganti keuntungan.
Dan kenangan—
kenangan hanya dianggap beban
yang menghambat perjalanan.
Maka aku memilih diam.
Karena percuma berteriak
di telinga yang tak lagi mau mendengar.
Percuma menangis
pada hati yang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Tetapi malam ini
izinkan aku bertanya sekali saja—
Jika semua pada akhirnya terlupakan,
untuk apa manusia berjuang mati-matian
agar dikenang?
Dan bila suatu hari nanti
namamu pun lenyap
ditelan usia dan zaman,
masihkah kau percaya
bahwa cintamu, pengorbananmu,
dan seluruh lukamu
pernah berarti?
Aku tidak takut menjadi hilang.
Yang kutakutkan hanyalah
ketika dunia berhenti peduli
bahwa pernah ada seseorang
yang bertahan mati-matian
agar orang lain bisa tetap hidup.
Sebab yang paling menyakitkan
bukanlah kematian.
Melainkan
dilupakan
saat hati masih ingin dikenang.
Bandung, 28 Mei 2026