Mekar Setelah Kemarau
Karya: YusmiatiSekian lama tanah dada ini gersang dan retak,
menyimpan harap yang layu, hampir habis terinjak.
Setiap doa kering seperti daun yang gugur ke bumi,
meminta setetes sejuk di tengah sunyi yang merajai.
Kemarau itu begitu panjang dan membakar,
menguji seberapa kuat akar-akar sabar menjalar.
Berkali-kali angin malam membawa debu kekecewaan,
seolah berkata bahwa hijau tak ‘kan lagi punya masa depan.
Namun di titik paling pasrah, saat ranting hampir patah.
Langit menurunkan rintik-Nya dengan begitu indah.
Bukan sekadar gerimis yang lewat lalu melesat pergi,
melainkan berkah yang membasuh seluruh luka di hati.
Kini, lihatlah sekuntum senyum mulai merekah,
di atas tanah yang dulunya dipenuhi air mata pasrah.
Warna-warni takdir yang baru, kini mekar dengan anggun,
menggantikan hari-hari yang sempat dilingkupi lamun.
Ternyata, gersang kemarin hanyalah sebuah jeda,
agar aku tahu mahalnya arti sebuah rasa reda.
Bahwa setelah kemarau yang paling menyiksa jiwa.
Tuhan selalu punya cara menumbuhkan bahagia yang tak terkira.
Lamongan,24 Juni 2026