Di Ambang Pintu yang Terkunci
Karya: Adit Barhan MaulanaDi ambang pintumu yang dingin dan membisu, kuraba serat kayu dengan hawa menusuk pori. Ada riuh rindu di kepala, namun suaraku, menggantung, tertahan di ujung nyali.
Samar kudengar derak langkahmu di dalam sana, menegaskan bahwa namaku tak lagi punya ruang. Harap ini, yang kupikul melewati saujana, kini bak musafir yang menggigil dan terbuang.
Maka biarlah doa ini mengendap perlahan, menjadi saksi bagi mata yang urung menatap. Biarkan kuncinya berkarat ditelan zaman agar harap yang tak tersampaikan ini, lebur dan senyap.
Bandung, 14 juli 2026