Biru yang Semu.
Karya: Rizqi NurhayatiKepadanya—Biru, yang tak sempat kusebut biruku.
Aku jatuh Biru.
Jatuh pada manisnya senyummu, binarnya matamu, lirihnya suaramu yang bergeming indah di telinga kananku. Aku jatuh cinta pada semua hal tentangmu, kala itu.
Aku jatuh lagi, Biru.
Seperti metafora, lucunya aku tak lagi jatuh cinta—aku jatuh tak lagi cinta.
Aku—mengharap rasamu selalu utuh untukku, memaksudkan kepastian yang telah lama menjadi harapan bisu, yang tak sempat terjawab olehmu.
Sesekali Sosiologi sempat mengingatkanku, manusia itu makhluk dinamis—seperti kamu, yang rasanya tak lagi utuh untukku, tapi perlahan memudar lalu beranjak kembali pada pemilik hatimu sebelum aku.
Demikian, semua hal tentangmu perlahan juga kuseka dalam hidupku.
Kilasan harapanku, Biru.
Harapku sungguh sederhana Biru, sesederhana menamaimu Biruku dan—singgah dengan sungguh bersamaku. Untuk harapanku lalu Biru—yang tak tersampaikan kepadamu, kasih semuku.
Sragen, 15 Juli 2026