Ketika Langit Menyeka Air Mata
Karya: Bela AzizahLayar laptop masih menyala walau jam sudah larut
menemani cemas yang diam-diam ikut duduk.
Di antara tugas yang menumpuk dan asa yang kutata
terselip tanya tentang jalan yang seharusnya kupijak.
Ada malam ketika bahu ini terlalu lelah menopang
takut jadi kecewa bagi Ibu yang di rumah selalu berserah.
Maka kubentangkan sajadah, satu-satunya tempat paling jujur
tempat kutitipkan resah dan lelah yang tak sanggup kuucap.
Ternyata langit tak pernah benar-benar diam mendengar
perjuangan yang sunyi itu pelan-pelan menjelma jawaban.
Ia datang bukan sebagai angka atau selembar penghargaan
melainkan ketenangan yang menggantikan segala kekhawatiran.
Dan ketika jawaban itu akhirnya tiba di waktu yang tepat
air mata yang dulu jatuh karena lelah
kini luruh menjadi syukur yang memeluk erat.
Lampung, 20 Juli 2026