Bunga Meilani Buling - "Ketika Langit Menyimpan Namamu" (LCP 47)

📅 18 Juli 👁 Memuat...

Ketika Langit Menyimpan Namamu

Karya: Bunga Meilani Buling


Ada musim yang tak pernah tiba, meski waktu telah berkali-kali mengetuk jendela. Di sana, aku menanam harap dengan tangan yang dipenuhi doa, namun takdir memilih menjadi angin, membawanya ke arah yang tak pernah kutahu.

Aku belajar mencintai diam, sebab beberapa perasaan lebih utuh jika tidak dipaksa menjadi suara. Ada kalimat yang lahir di ujung lidah, tetapi gugur sebelum sempat mengenal telinga.

Namamu, adalah hujan yang tak pernah benar-benar turun. Ia menggantung di langit ingatan, mendung, namun enggan menjadi air mata.

Sering kali aku mengira semesta sedang menulis akhir yang indah. Nyatanya, ia hanya mengajariku bahwa menunggu tidak selalu berujung temu, dan berharap tidak selalu berhak memiliki.

Aku menyaksikan matahari tenggelam berulang kali, membawa pulang cahaya yang tak sempat kupinjam. Begitulah harapku— setia datang setiap pagi, meski tahu senja akan kembali merenggutnya.

Barangkali, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan, melainkan menyimpan seluruh keberanian untuk mengucapkan satu kalimat, lalu membiarkannya menjadi penghuni abadi di dalam dada.

Maka jika suatu hari kau menemukan angin yang berembus lebih pelan dari biasanya, mungkin itu adalah sisa harapku yang akhirnya memilih pergi, bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena lelah menjadi doa yang tak pernah sampai.

Dan aku, akan tetap berdamai dengan langit yang menyimpan namamu. Sebab tidak semua bunga ditakdirkan mekar di taman yang sama, dan tidak semua harap ditakdirkan menemukan rumahnya.




Kupang, 18 juli 2026