Serpih Kalam di Sepertiga Malam
Karya: CahayaKutitipkan harap di sela sujud yang rekah dalam sepertiga malam,
ketika namanya tak lagi menjawab arah doa.
Sejak itu, ia menjelma atlas yang kehilangan kiblat pulang,
lembaran rupa bumi yang perlahan meluruhkan jejak aksaranya
dari peta rumah kami.
Aku menyimpan kalimat yang tak terlafalkan,
di antara denting sendok yang menjadi sisa gaung malam,
dan batuk lirih yang dahulu menjadi penanda
ia masih ada di ruang yang sama.
Dalam tahajud yang beku,
aku pernah mencoba memanggilnya lewat bisik
yang tak sempat menjadi suara aksara,
namun ia pecah sebelum sampai batas langit yang diam.
Kini kursinya bersemayam seperti ayat
yang tertinggal separuh dibaca,
diam yang tidak lagi meminta dipahami.
Dan aku mengerti:
yang tak tersampaikan bukan sekadar kata—
melainkan harap yang tersangkut diantara sujud,
dan nama yang tidak lagi ditemukan oleh doa.
Bondowoso, 01 juli 2026