Sebelum Pundakku Belajar Retak
Karya: Cahya Rahai Abdul Azis SauDi rumah yang tak pernah benar-benar sunyi,
aku belajar mengenali namaku bukan hanya sebagai anak, melainkan sebagai bahu.
Sejak usia masih ingin mengejar layang-layang
dan pulang dengan lutut yang penuh debu,
aku telah diajari membaca cemas di wajah ibu,
menyembunyikan letih di balik senyum, serta mengalah sebelum sempat meminta.
Aku adalah anak perempuan pertama.
Di belakangku, tujuh tujuh kehidupan tumbuh,
menitipkan harapan pada langkah-langkah yang ku tempuh.
Sejak itu, aku tahu,
dewasa ternyata bukan soal usia,
melainkan tentang siapa yang lebih dahulu belajar memikul.
Aku tidak membenci takdir,
ataupun menyesalinya.
Aku hanya pernah berharap,
dalam doa yang tak pernah selesai kuucapkan,
"Ya Allah,
jika Engkau berkenan,
sekali saja,
izinkan beban ini singgah di pundak yang lain."
Bukan karena aku ingin menyerah,
melainkan karena pundakku pun
tercipta dari tulang yang dapat retak,
dan hati yang tak selalu sanggup bertahan.
Namun setiap pagi datang,
aku kembali mengenakan senyum,
seolah-olah tidak ada yang sedang runtuh.
Tak seorang pun mendengar
betapa lirih suara yang kusembunyikan.
Sebab setiap kali bibirku berkata,
"Aku baik-baik saja,"
yang sebenarnya gugur adalah keberanianku
untuk mengakui bahwa aku juga lelah.
Kini aku mengerti,
barangkali tidak semua harap ditakdirkan untuk sampai.
Ada yang sengaja disimpan Tuhan
agar menjelma menjadi sabar,
menjadi ikhlas,
dan menjadi jalan pulang menuju kedewasaan.
Meski demikian,
jika kelak Engkau mengizinkanku memohon sekali lagi,
aku hanya ingin satu hal:
Biarkan aku, sesekali,
menjadi anak perempuan yang boleh bersandar,
bukan hanya bahu
tempat seluruh harapan keluarga diletakkan.
Yogyakarta, 14 Juli 2026