Doa Yang Tidak Pernah Kudengar
Karya: DepieAku lahir
di rumah yang tak pernah kaya,
namun selalu cukup
untuk menyembunyikan lapar di balik senyum.
Ayah pulang
membawa lelah di pundaknya,
lalu menggantungkannya diam-diam
agar aku tak ikut merasa berat.
Ibu menyajikan makan malam
dengan piring yang sama,
tetapi baru kusadari kemudian,
ada bagian yang sengaja tak ia ambil
agar aku bisa kenyang.
Aku tumbuh
di antara doa-doa
yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras.
Mereka tak meminta balasan,
tak menagih keberhasilan,
hanya berharap
aku tak perlu mengulang
kerasnya hidup yang mereka jalani.
Kini aku mengerti,
setiap keriput di wajah mereka
adalah kalender pengorbanan
yang diam-diam terus bertambah.
Dan aku takut…
Takut ketika nanti
aku baru sempat mengucap,
“Terima kasih, Ayah… Terima kasih, Ibu…”
justru saat nisanlah
yang lebih dulu menjawab.
Maka sebelum waktu
mencuri pelukan terakhir,
izinkan satu harapan ini
menembus langit.
Ya Tuhan,
jika kebahagiaan memiliki alamat,
biarkan rumahku menjadi tujuan pertama.
Sebab telah terlalu lama
Ayah dan Ibu
menyembunyikan air mata
agar aku percaya
dunia selalu baik-baik saja.
Palangkaraya, 30 Juni 2026