KALAM TANPA ALAMAT
Karya: Nayla Isyatur RodhiaDikabulkan itu bukan seperti menang—
ia jauh lebih sunyi dari perayaan
Kudapati apa yang dulu kutangisi kini ada di pandangan,
di saat relung dadaku justru telah selesai mengikhlaskannya
Aku adalah hamba yang keras kepala meminta sepercik api,
tapi Kau justru menjatuhkan gerimis Tenang yang menghidupkan kembali tanah gersang
Yang paling membuat tertegun bukan saat keinginan itu mewujud
Tapi saat kusaksikan takdir-Mu mekar sempurna—
tanpa celah, tanpa tergesa, tanpa sisa—
dan aku sadar dengan seluruh sujudku yang melandai,
bahwa keselamatan yang kuterima justru bersemi dari penolakan-Mu yang lalu
Tuhan, aku bukan tidak didengar oleh-Mu.
Doaku hanyalah surat tanpa alamat yang sempat mengendap di kepala—
ditumpuk waktu tanpa suara, tanpa tanda,
namun diam-diam Kau rawat jalannya agar pulang tepat waktu
Ada gerak aneh saat angin malam lewat,
seperti garis takdir yang diam-diam belajar merajut polusi
Menerima ketetapan-Mu seperti menyalakan lilin di tengah hujan
Mustahil menghalau badai,
tetapi cahayanya cukup membuat ketidakpastian terasa lebih manusiawi.
Sidoarjo, 30 Juni 2026