Retorika Sunyi di Balik Punggung
Karya: Erlina Dia PratiwiAda medan laga yang tak pernah kaulihat di bawah kulitku,
tempat aku bertarung dengan ribuan ragu yang enggan menjadi abu.
Orang-orang hanya menyaksikan mercusuar yang berdiri dengan angkuh,
tanpa pernah mau tahu seberapa berdarah fondasi yang menolak menyerah.
Menjadi aku adalah seni merawat retakan dalam diam yang paling pekat,
memastikan senyum tetap utuh saat seluruh sendi raga terasa sekarat.
Aku sering kali berdiri di depan cermin yang buram dan enggan memancar,
menatap sepasang mata yang lelah memikul harapan yang terlanjur menjalar.
Tak ada yang tahu seberapa sering aku harus menempa tangis menjadi tawa,
menukar segala ringkih di dada demi jaminan bahwa semua akan baik-baik saja.
Sebab harap yang paling purba dan tak pernah sampai ke telinga siapa pun,
adalah keinginan sederhana untuk meletakkan senjata dan berhenti berpura-pura.
Namun esok, aku akan tetap melangkah membelah cuaca yang kian membatu,
sebab takdir telah terlanjur memilih rahim ini, untuk melahirkan jiwa yang tabah dan satu.
Purworejo, 16 Juli 2026