Sesudah ribuan pinta
Karya: Evina Puji ShaniaLembaran dan tumpukan buku membisu di sisi meja,
Pena yang dulu menoreh asa kini terdiam seribu bahasa.
Merah di telapak tangan merekah,
Menjadi saksi berapa kali ia menuliskan luka.
Air mata luruh tanpa jeda,
Entah berapa kali gagal mengguncang dada.
Jutaan kata “ikhlas” telah menjadi santapannya,
Namun benarkah ikhlas semudah mengucapkannya?
Akankah ribuan pinta terus menguap,
Larut bersama malam yang kian menua?
Kuterima takdir meski dada belum sepenuhnya rela,
Sebab waktu mengajarkanku membaca maknanya.
Takdir yang dulu kusangka hambar dan tanpa warna,
Kini terasa hangat memeluk luka yang lama tersesat.
Menenangkan hati yang letih menunggu,
Dan merangkul mimpi yang nyaris runtuh.
Apakah ini jawaban dari langit,
Atas doa yang kubisikkan di setiap sunyi?
Ataukah sejak awal Kau telah menuntunku,
Hanya saja aku terlambat memahami?
Salatiga, 20 Juli 2026