Yang Mula-Mula Basah Bukan Hujan
Karya: Fathir Salam RahanyamtelMalam menggantungkan embun pada urat daun, seolah langit lupa menutup matanya sendiri.
Dan kukumpulkan sunyi menjadi telapak,
menadah sesuatu yang belum bernama.
Doaku selalu tumbuh tanpa suara,
mengakar pada retak yang tak pernah kupamerkan.
Hari-hari kini berlalu,
bahkan angin sempat kehilangan alamat untuk pulang.
Kupikir Tuhan selalu diam,
padahal Ia sedang mengajari waktu mengeja sabar.
Lalu pagi membuka pintu dengan cahaya yang tak sempat kukenal.
Dan barulah kusadari,
yang dikabulkan bukanlah seluruh pintaku,
melainkan diriku yang akhirnya sanggup menjadi jawaban atas doa itu sendiri.
Ambon, 20 Juli 2026