Harum sarohman - Harap yang tak pernah kembali (LCP 47)

📅 02 Juli 👁 Memuat...

Harap yang tak pernah kembali

Karya: Harum sarohman


Harap yang Tak Pernah Kembali

Di antara ribuan langkah yang kutempuh,
aku pernah memilih berjalan ke arahmu.
Bukan karena jalan itu mudah,
melainkan karena aku percaya
setiap harap memiliki rumah.

Aku mengumpulkan keberanian
dari serpihan ragu yang kutepis setiap hari.
Kusimpan namamu
di sela-sela doa yang tak pernah selesai,
seolah langit akan luluh
oleh kesungguhan seorang yang mencinta.

Namun ternyata,
tak semua doa ditakdirkan menjadi nyata.

Kau tetap menjadi langit—
indah dipandang,
tetapi terlalu jauh untuk kugapai.

Aku adalah hujan
yang jatuh berkali-kali di halaman yang sama,
sementara jendelamu
tak pernah sekali pun terbuka.

Barangkali,
aku terlalu sibuk menerjemahkan perhatianmu
menjadi harapan,
padahal itu hanyalah kebaikan
yang kuberi makna terlalu dalam.

Maka aku belajar bahwa
yang paling menyakitkan bukanlah penolakan,
melainkan menunggu sesuatu
yang diam-diam tak pernah datang.

Malam-malamku dipenuhi percakapan
yang hanya terjadi dalam kepala.
Aku membayangkan kita
dalam kisah yang tak pernah kau tulis,
sementara kenyataan
selalu menghapus namaku dari setiap akhir cerita.

Kini aku mengerti,
mencintai bukan selalu tentang memiliki.
Kadang cinta hanya datang
untuk mengajarkan cara merelakan,
bukan cara menggenggam.

Maka biarlah aku pergi
tanpa menyisakan benci.
Karena kasih yang tulus
tak pernah lahir untuk memaksa.

Jika suatu hari nanti
kau melihat seseorang tersenyum
setelah sekian lama kehilangan cahaya,
mungkin itu aku—
yang akhirnya berdamai dengan kenyataan.

Dan bila angin membawamu
melewati jejak-jejak yang pernah kita lewati,
jangan mencari bayanganku.

Sebab harap yang tak terbalas
telah kupeluk menjadi kenangan,
lalu kulepas perlahan
agar ia terbang bersama waktu.

Karena pada akhirnya,
yang benar-benar mencintai
bukanlah yang paling lama menunggu,
melainkan yang mampu mengikhlaskan
meski hatinya belum sepenuhnya sembuh.


Jakarta,1juli 2026