Harapan di bawah permukaan
Karya: NORAAku tidak memilih menjadi langit atau bumi.
Aku memilih menjadi lautan.
Banyak orang menyukai langit karena birunya yang hangat dan menenangkan.
Namun aku lebih memilih lautan.
Karena lautan selalu menyimpan sesuatu yang tidak terlihat.
Dari kejauhan, lautan tampak tenang.
Permukaannya memantulkan cahaya, seolah tidak pernah mengenal badai.
Namun jauh di bawahnya, arus terus bergerak.
Diam.
Dalam.
Tanpa perlu diketahui siapa pun.
Begitulah aku.
Mungkin orang melihat senyumku.
Melihat tawaku.
Melihat langkahku yang tetap berjalan seperti biasa.
Tetapi tidak semua orang melihat gelombang yang pernah datang.
Tidak semua orang mengetahui badai yang pernah kulewati.
Dan tidak semua orang tahu bahwa jauh di dalam hati, masih ada harapan yang kujaga.
Harapan itu tidak pernah kuteriakkan.
Bukan karena aku telah kehilangan keyakinan.
Melainkan karena aku percaya, tidak semua harapan harus didengar dunia agar tetap hidup.
Ada harapan yang cukup disimpan dalam hati.
Dirawat perlahan.
Ditemani waktu.
Seperti arus yang terus mengalir meski tak pernah terlihat oleh mata.
Karena itu aku memilih menjadi lautan.
Bukan karena aku ingin terlihat luas.
Tetapi karena aku ingin belajar tetap tenang tanpa harus menjelaskan semuanya kepada siapa pun.
Aku tidak perlu membuktikan apa pun hari ini.
Aku hanya perlu terus bertumbuh.
Sedikit demi sedikit.
Dalam diam.
Sebab aku percaya, tidak ada arus yang mengalir sia-sia.
Setiap perjalanan selalu memiliki tujuannya sendiri.
Dan setiap harapan selalu menemukan waktunya sendiri.
Ketika waktunya tiba, ombak akan datang membawa cerita yang selama ini disimpan oleh lautan.
Bukan untuk membuktikan siapa yang paling kuat.
Melainkan untuk menunjukkan bahwa harapan yang paling tulus sering kali tumbuh tanpa suara.
Karena pada akhirnya...
yang paling dalam tidak selalu tampak di permukaan.
Dan harapan yang paling kuat...
sering kali hidup di tempat yang paling sunyi.
Di bawah permukaan.
Polewali, 08 juli 2026