Ekaristi Sauh di Palung Arasy
Karya: Nur izzati hakikiDi beludru bisu yang lumat oleh jera,
jemari malam menyuling sunyi menjadi aksara.
Kularung rintih paling purba ke rahim udara,
saat jemala meluruh pada lekuk kian kentara.
Aku musafir mengeja dahaga di sela gema,
mengetuk gerbang yang mengunci rahasia semesta.
Kusangka gemintang mengacuhkan rasi yang patah,
dan Sang Arsitek Agung membiarkan aksaraku punah.
Namun Ia tiada membiarkan benih terapung sia-sia,
di atas gelombang batin penyeleweng prasangka.
Ternyata, titah-Mu tiada datang bagai amuk saujana,
melainkan laksana fajar menyisip di celah buana.
Bukan kala ego mendesak penuh gusar,tapi saat cawan jiwaku selesai memar.
Kini, fatamorgana yang dahulu mustahil kuperam,
telah mengejawantah, melumat ranah kelam.
Sesuatu yang dulu membuat dongakanku begitu jemu,
kini melunak, memeluk jemari dengan begitu teduh.
Sebab riak yang karam di dasar palung,selalu bermuara pada cahaya yang agung.
Sampang, 7 Juli 2026