Harap yang Tak Pernah Sampai
Karya: Rahmi DiktariyeniAda harap yang tumbuh
tanpa pernah meminta tempat.
Ia lahir dari pertemuan yang sederhana,
lalu menetap
di ruang paling sunyi dalam dada.
Aku menyimpannya
seperti langit menyimpan senja;
indah,
namun tak pernah mampu menahan gelap
agar tak datang.
Berkali-kali
kata-kata kususun dengan hati-hati,
namun setiap keberanian
selalu kalah oleh ragu
yang lebih dulu mengetuk.
Barangkali,
tidak semua rasa diciptakan
untuk diucapkan.
Sebagian hanya ditakdirkan
menjadi doa
yang diam-diam menghafal namamu.
Aku belajar,
bahwa menunggu
tidak selalu berarti berharap untuk memiliki.
Kadang,
menunggu hanyalah cara
agar hati perlahan menerima
bahwa ada jarak
yang tak dapat dipendekkan
oleh sekeras apa pun keinginan.
Kini aku tak lagi sibuk
mencari kemungkinan.
Aku hanya ingin percaya
bahwa setiap harap
akan menemukan rumahnya,
meski bukan pada tangan
yang sejak awal ingin kugenggam.
Jika suatu hari
namamu tinggal sebagai gema,
biarlah waktu yang menjaganya.
Aku tak ingin mengingatmu
sebagai luka,
melainkan sebagai pelajaran
bahwa ada perasaan
yang begitu tulus,
namun memilih diam
agar tak menjadi beban
bagi siapa pun.
Sebab yang paling menyedihkan
bukanlah kehilangan,
melainkan menyadari
bahwa ada harap
yang tumbuh dengan sungguh-sungguh,
tetapi tak pernah menemukan
jalan pulang menuju kata.
Kab. Serang, 4 Juli 2026