Harap yang tak tersampai
Karya: Regina Adellia Rizky FebrianAku belajar mencintaimu dengan cara yang paling sunyi:
menjadi rumah bagi semua versimu,
padahal aku bahkan tak punya kunci untuk pintumu.
Kau adalah langit yang terlalu luas untuk kugapai,
tapi tetap aku lukis di langit-langit kamarku.
Kau adalah doa yang tiap malam kusebut,
padahal namamu tak pernah disebut dalam doamu.
Aku menanam harap di tanah yang kau injak sekilas,
lalu menunggu ia berbunga setahun lamanya.
Aku menulis "kita" di atas air,
dan heran kenapa ia menghilang setiap kau datang.
Ternyata harap ini bukan untuk disampai.
Ia hanya diutus untuk mengajariku
bahwa mencintai tak harus memiliki,
bahwa melepaskan adalah bentuk paling dewasa dari memeluk.
Jika suatu hari kau bertanya kemana perginya harap itu,
jawabnya:
Ia pulang. Menjadi tenang di dadaku.
Menjadi syukur karena pernah berani bermimpi.
Ngawi 18 juli