Ketika Langit Menjawab dengan Sunyi
Karya: RISKAPada riuhnya asa yang tumbuh semakin liar,
aku melihat tembok-tembok berdiri tegak tanpa suara,
menyimpan gema langkah yang kehilangan arah.
Tubuhku terpontang di antara hidup dan mati,
sementara waktu menunggu dengan wajah yang asing.
Langkah berkali-kali menolak pergi,
namun jiwa pun enggan lagi menyatu dengan raga.
Segala yang pernah disebut harapan
perlahan luruh seperti dedaunan yang lupa musimnya.
Aku bertanya kepada langit,
mengapa napas masih menetap
jika hati telah lama berpamitan?
Sunyi ternyata bukan lagi sesuatu yang menakutkan.
Ia duduk di sampingku setiap malam,
menjadi satu-satunya teman
yang tidak pernah memintaku terlihat kuat.
Di pelukannya aku belajar,
bahwa sepi dapat menjadi ruang
bagi luka untuk berhenti berpura-pura sembuh.
Lalu, ketika tubuh kembali sanggup memeluk dunia,
cahaya datang tanpa gaduh,
mengusap wajahku yang lama kehilangan pagi.
Bukan kemenangan yang kubawa pulang,
tetapi keberanian
untuk membuka mata sekali lagi.
Tangan ini kembali mengadah,
entah kepada siapa.
Kepercayaan terasa telah meninggalkan dadaku,
menyisakan ruang kosong
yang bahkan doa pun enggan singgah di dalamnya.
Aku terbujur tanpa tujuan,
memohon di antara bangunan-bangunan megah yang tak berpenghuni,
kepada gema yang tak pernah menjawab namaku.
Tangisku tak lagi terdengar lirih,
sebab ia telah habis menjadi gema.
Doaku pun tak lagi berulang;
bukan karena telah putus asa,
tetapi karena seluruh kata
telah lelah mengetuk pintu langit.
Namun anehnya,
aku masih berharap.
Dan lebih aneh lagi,
aku tak mati.
Barangkali langit memang mendengar
seluruh pilu yang kupikul diam-diam.
Barangkali ia menghitung
setiap air mata yang tak sempat jatuh.
Hanya saja,
ia tidak menjawab dengan keajaiban,
tidak pula dengan pelukan yang segera menghapus luka.
Ia menjawab dengan sunyi.
Sunyi yang mengajariku bertahan
ketika tak ada lagi alasan untuk tetap hidup.
Sunyi yang menjahit kembali retak-retak keyakinan
tanpa satu pun janji diucapkan.
Sunyi yang membuatku sadar,
bahwa doa tidak selalu dijawab
dengan apa yang diminta,
melainkan dengan kekuatan
agar tetap melangkah meski dunia belum berubah.
Kini aku mengerti,
jawaban itu telah lama datang
bukan sebagai mukjizat yang membelah langit,
melainkan sebagai napas
yang masih setia menetap di dada.
Dan selama aku masih mampu bernapas,
selama harap belum benar-benar padam,
langit ternyata tidak pernah diam.
Ia hanya memilih
menjawab doaku
dengan sunyi.
Bone, 4 Juli 2026