Harap yang Tersesat
Karya: Diana PutriHarapku terlalu lama hidup hingga ia lupa caranya mati.
Setiap malam kujahit harap dengan benang sabar,
namun fajar selalu datang membawa gunting bernama kenyataan.
Lalu ia tumbuh— menjelma bunyi paling bising di dalam kepalaku; menggedor tengkorak, mencakar dinding dada, menuliskan namamu dengan kuku-kuku yang patah.
Kukira semesta memiliki sedikit belas kasih.
Nyatanya,
ia hanya pandai mengulur harapan.
Aku telah mengirim begitu banyak harap kepadamu.
Lewat doa.
Lewat diam.
Lewat air mata yang kutelan kembali agar tak ada siapa pun mendengar betapa rapuhnya aku.
Tak satu pun sampai.
Entah...
Mungkin semuanya tersesat.
Atau barangkali hatimu memang negeri asing yang sejak awal menolak seluruh bahasa yang kubawa.
Maka biarlah harap itu
tinggal menjadi bahasa terakhir
yang hanya aku sendiri
mampu membacanya.
Subang, 3 Juli 2026