Runtuhan Doa Samudra
Karya: Rohmat Adji WardhanaKutapakkan kaki
di tanah yang menyimpan luka.
Membiarkan sunyi
memeluk setiap jejak yang kutinggalkan.
Doa-doaku menjulang ke langit,
namun kembali
sebagai gema
yang kehilangan jawaban.
Hari demi hari
menjelma dinding kesabaran.
Sedangkan waktu
terus mengikis harapan
tanpa suara.
Di hadapan samudra
yang tak bertepi,
kusujudkan segala resah
dan kerinduan.
Kubisikkan nama-nama harapan,
lalu kubiarkan ombak
membawanya menuju cakrawala.
Entah pada siapa
doa itu berlabuh.
Sebab langit tetap membisu,
dan angin
hanya mengembalikan sepi.
Aku menanti
bagai arca yang retak,
tegak meski perlahan
dihancurkan musim.
Pada setiap embusan semilir,
kutitipkan keyakinan
yang nyaris gugur.
Secebis doa,
setitik air mata,
dan sejuta pengabdian
tetap kupeluk.
Sampai runtuhan doa di samudra
menemukan jawaban
yang selama ini
disembunyikan waktu.
Gempol, 30 Juni 2026