Balasan Untuk lukaku
Karya: Roza Ade FitriDi sudut malam yang tak pernah bersuara,kutadahkan kedua tangan yang mulai lelah.
Kupanggil nama-Mu dengan air mata yang lebih fasih dari pada ribuan kata.
Tak ada yang tahu berapa kali harapan patah di pelupuk mata,berapa kali senyum ku pinjam agar dunia percaya aku baik-baik saja.
Aku pernah berjalan di lorong yang dipenuhi sepi.
Menyapa hari tanpa yakin matahari akan singgah.
Namun Engkau selalu mengajarkanku,bahwa fajar tak pernah lupa pulang.
Aku menunggu...bukan sehari,bukan sebulan,melainkan sepanjang keyakinan yang hampir kehilangan napas.
Setiap kecewa ku titipkan pada sajadah.
Setiap luka ku serahkan kepada langit.
Dan setiap malam aku percaya,tidak ada doa yang benar-benar hilang.
Sebab Engkau adalah sebaik-baik Pendengar.
Lalu suatu hari...Tanpa suara gemuruh.
Tanpa pesta yang menggetarkan bumi.
Hanya sebuah ketenangan yang perlahan memenuhi dada.
Satu demi satu pintu terbuka.
Yang hilang kembali.
Yang kusangka mustahil berubah menjadi nyata.
Saat itu aku mengerti...Jawaban doa tak selalu datang seperti yang kita pinta.
Kadang ia hadir sebagai kesabaran.
Kadang sebagai kehilangan agar kita menemukan yang lebih baik.
Kadang sebagai air mata yang diam-diam sedang menumbuhkan bahagia.
Kini aku tak lagi bertanya,"Mengapa harus menunggu begitu lama?"Karena akhirnya kusadari,Engkau tidak pernah terlambat.
Engkau hanya sedang menyiapkan waktu terbaik,cara terbaik,dan hadiah terbaik.
Hari ini...Aku masih berdoa.
Bukan lagi agar semua keinginanku terwujud,melainkan agar hatiku selalu percaya kepada kehendak-Mu.
Sebab doa yang paling indah bukan hanya yang terucap oleh bibir,melainkan yang dijawab oleh kasih sayang Tuhan pada waktu yang paling tepat.
Dan ketika semua itu terjadi,aku hanya mampu berbisik..."Terima kasih, Tuhan...
Kini aku mengerti,setiap air mata yang jatuh dahulu ternyata sedang mengantarkan menuju doa yang terjawab."
Solok, 01 juli 2026