Sketsa yang Terasing
Karya: Surya Fajar KelanaDi setiap detik langkah ini, ada mimpi yang telah kuukir sejak dahulu.
Aku… ya, aku. Aku hanyalah seorang anak dengan sejuta angan.
Sejuta harapan untuk menjadi apa yang kuinginkan.
Namun… apa yang kudapatkan?
Semua terasa asing, jauh dari lukisan mimpi yang pernah kupahat.
Katanya, Tuhan mengerti setiap keinginan hamba-Nya.
Namun, mengapa aku tak berada dalam dekapan keberuntungan itu?
Aku melangkah menjauh dari setiap sketsa yang kuhalalkan dalam benak.
Hai… apakah keadilan-Mu masih ada untukku?
Tuhan, mengapa Kau tak menempatkanku dalam mimpiku?
Mengapa Kau letakkan aku di ufuk yang jauh dari rencanaku?
Mengapa keraguan ini menyelimuti prasangkaku akan adil-Mu?
Aku hanya ingin pulang ke dalam mimpiku sendiri.
Aku tak tahu harus berpijak ke arah mana.
Semua langkahku kini memudar, kabur ditelan kelabu.
Tak ada lagi cahaya pada setiap ukiran yang pernah kulukis.
Aku telah berjalan sangat jauh, terasing di tempat yang asing.
Kini, aku hanya bisa menunduk, menerima takdir-Mu.
Aku kehilangan kendali atas kuas mimpi itu.
Dan sadar, mungkin aku memang tak ditakdirkan berada di sana.
Lhokseumawe, 6 Juli 2026