GARAM DI BIBIR LUKA
Karya: Tyas Mei DiastutikKupandang gelombang menubruk batu karang,
dengan sabar ia mengikis harap yang lama kusimpan.
Airnya tampak tenang, namun tegas tak terbantah,
mengalun pelan seperti melodi rahasia yang menetap di dada.
Burung-burung masih berkicau saat matahari terbenam,
menjadi saksi bisu senja yang perlahan padam.
Kutitipkan namamu pada buih putih yang pecah di batu,
namun laut terlalu luas untuk sekadar mengingat.
Harapku karam sebelum sempat berlabuh di dermaga impian,
yang tersisa hanyalah garam perih di bibir luka.
Dan jika suatu hari nanti kau merindukan suara senja,
dengarkanlah debur ombaknya yang datang dan pergi.
Di sanalah doaku bersemayam,
doa lirih yang tak pernah benar-benar sampai padamu.
Aku belajar mencintai jarak yang tak terjembatani,
dan merawat rindu yang tumbuh tanpa memiliki.
Biarlah angin saja yang tahu,
betapa dalam namamu pernah kutenggelamkan di hatiku.
Jepara, 16 Juli 2026