Karya: Ahmad Syaikhoni Tyazain
Kita datang dengan alamat yang berbeda,
membawa sunyi di lipatan masing-masing.
Tak ada yang bertanya
dari mana sebuah luka bermula.
Di sebuah malam,
telapak-telapak terangkat...
seperti rumah-rumah kecil
yang membuka pintunya kepada langit.
Lalu doa bergerak tanpa suara,
melewati dinding,
menyeberangi nama,
menanggalkan batas yang kita bangun sendiri.
Satu amin lahir dari bibirmu,
satu lagi dari bibir yang tak kukenal.
Keduanya tidak saling mencari,
namun bertemu
di sebuah titik yang tak tercetak
pada peta mana pun.
Mungkin begitulah Tuhan
menggambar kedekatan:
bukan dengan memperpendek jarak,
melainkan dengan membuat hati
tak lagi membutuhkan batas.
Dan ketika suara kita reda,
yang tersisa bukan siapa dan siapa...
hanya sebuah amin
yang diam-diam
telah mengubah kita
menjadi satu arah.
Bandar Lampung, 29 Agustus 2026