Karya: Aprillia Takainginang
Di persimpangan sunyi kita berdiri,
menatap langit malam yang menyimpan rahasia.
Ada kehangatan yang menetap dalam benak,
sebuah rasa yang tumbuh jujur tanpa meragu.
Setiap langkah menyusuri lorong waktu,
kita merajut mimpi dalam bait-bait cerita.
Namun ketika gema doa mengudara di udara,
jalan kita berbelok menuju ke arah berbeda.
Genggaman jemari perlahan melepaskan keterikatan, menghormati ruang yang tak bisa disatukan.
Sebab iman tak sama mengajari kita pasrah,
bahwa mencintai tak selalu harus memiliki,
dan ketulusan tertinggi adalah merelakan langkahmu bahagia.
Kita simpan keindahan ini sebagai kenangan,
memeluk takdir dengan senyum yang tenang.
Bitung, 24 Agustus 2026