Dibaca: Memuat...
Ketika Perbedaan Berlutut Dalam Doa
Karya: Arvinssy Stelani BarahamaDi antara riuh suara dunia,
kita datang dengan langkah berbeda,
membawa nama, cerita, dan warna,
serta harapan yang tak selalu sama.
Ada tangan yang menggenggam doa,
ada hati yang menyimpan luka,
ada mata yang menatap langit,
menunggu jawaban yang belum terlihat.
Namun ketika kepala menunduk,
perbedaan perlahan menjadi sunyi.
Tak ada lagi jarak di antara kita,
hanya hati yang berbicara kepada langit.
Kita mungkin berbeda jalan,
berbeda bahasa dalam menyebut harapan,
tetapi bukankah setiap hati
menginginkan damai yang sama?
Dalam doa, kita belajar mengerti,
bahwa perbedaan bukan alasan untuk pergi.
Ia adalah warna dalam kehidupan,
yang membuat kebersamaan menjadi indah.
Biarlah doa-doa kita terbang,
menembus batas yang dibuat manusia.
Biarlah langit menjadi saksi,
bahwa kita pernah memilih persaudaraan.
Jika suatu hari dunia kembali gaduh,
ingatlah saat kita menundukkan kepala.
Sebab di tempat itulah kita bertemu—
tanpa sekat, tanpa curiga, tanpa jarak.
Ketika perbedaan berlutut dalam doa,
ego belajar melepaskan diri,
hati belajar saling memahami,
dan persaudaraan menemukan jalannya kembali.
Mungkin doa kita tak selalu serupa,
namun harapan kita dapat berjalan bersama:
agar damai tumbuh di setiap langkah,
agar kasih tinggal di setiap jiwa.
Dan bila langit bertanya
apa yang paling kita inginkan,
biarlah satu suara menjawab:
“Semoga perbedaan tidak memisahkan,
semoga doa menyatukan,
dan semoga kita tetap menjadi manusia
yang saling menjaga dalam kehidupan.”
Minahasa Utara,15 Agustus 2026