Dibaca: Memuat...
Antara azan dan lonceng yang berdenting
Karya: Maisa fitriLangit tidak pernah membelah diri menjadi dua warna,
seperti air dan minyak yang takkan pernah bisa menyatu.
Begitu pula aku dengannya, yang terkurung di antara azan
dan bunyi lonceng yang berdenting,
menanti takdir yang entah ke mana akan menuntun.
Lonceng berbunyi, menandakan ibadah akan segera dimulai.
Sedangkan aku, yang sudah duduk di atas sajadah,
menunggu azan mengalun indah.
Setiap kali aku melirik ke arahmu yang sedang beribadah,
aku terdiam sejenak, karena berpikir:
apakah kita bisa bersatu?
Atau malah berpisah di antara sujud dan tetes air doa?
Kalimat-kalimat itu terus menghantuiku,
seolah ingin segera menemukan jawabannya.
Sunyi. Semua orang beribadah dengan khusyuk tanpa bisik,
hanya terdengar helaan napas yang dihembuskan.
Saat aku memegang kitab suciku,
aku juga bisa melihat kau yang sedang memegang Alkitabnya.
Aku hanya diam menatapnya, karena aku sadar,
jika perbedaan ini menjadi penghalang, akankah aku merelakannya?
Ah, tidak semua manusia harus kita kejar,
dan belum tentu dia mencintai kita seperti kita mencintainya.
Kejar mimpi kita yang sudah lama kita harapkan,
jangan mengharapkan orang yang entahlah kapan sadarnya.
Kota bangun, 15 Agustus 2026