Karya: Elyana Hafiza Hanum
Aroma tubuhmu tertinggal di sudut meja lingkar tua itu,
bukan bau kayu atau sisa kopi basi, melainkan pecahan tawa kita berdua.
Semuanya mendadak senyap, runtuh begitu saja,
saat sore kemarin terburu-buru pamit pada malam.
Kepala ini payah sekali jika disuruh mengingat,
sering keliru menyusun urutan hari.
Tapi debar dada saat memelukmu waktu itu,masih tersimpan rapi, terasa di lipatan baju ini.
Kita memang kalah oleh jarak yang bajingan ini,
tapi aku tahu Tuhan tidak pernah tidur.
Di atas sajadah, saat tangan ini gemetar menengadah,dua takdir yang jauh itu erat disatukan oleh doa.
Sekarang biarlah sunyi menenggelamkan dunia,asal dadaku tetap riuh mengeja namamu dalam diam.
Kudus, 28 Agustus 2026