DUA CAHAYA
Karya: NURMESADua cahaya saling menerangi,
namun tak pernah ditakdirkan
jatuh pada ufuk yang sama.
Di antara air baptis
dan bening wudhu,
ada jarak yang tak kasatmata.
Di antara kiblat dan altar,
doa-doa kita tumbuh
dari tanah yang berbeda.
Kau menengadah,
aku pun menengadah—
hanya saja,
langit yang kita tuju
tak pernah mengenal arah yang sama.
Kita seamin,
namun tak seiman.
Sama-sama mengeja cinta,
namun berbeda cara
menyebut nama Tuhan di dalamnya.
Kita berbagi senja
di bawah atap langit yang satu,
tetapi tembok keyakinan
berdiri lebih tinggi
daripada tangan yang ingin meraih.
Mungkin kita bukan dua hati
yang gagal menjadi satu,
melainkan dua cahaya
yang memang diciptakan
untuk saling menerangi
dari kejauhan.
Sebab ada cinta
yang tidak meminta untuk memiliki—
ia hanya ingin tetap menjadi cahaya
di jalan yang berbeda.
Majalengka,30 Agustus 2026