Cinta yang Tak Direstui Iman
Karya: Rifki NurcahayaMencintaimu adalah seperti
aku sedang mencintai Tuhanku—
begitu dalam, begitu lekat,
hingga namamu selalu menemukan jalan
untuk tinggal di setiap ruang pikiranku.
Namun, renjana yang kupilih
tak mampu berlabuh bersamaku.
Ada jarak yang tak terbentang oleh ruang,
melainkan oleh keyakinan
yang kita genggam dengan cara berbeda.
Setiap detik, aku bertanya kepada diriku sendiri,
bagaimana mungkin aku bisa bersamamu,
jika Tuhan yang kusembah
tak sama dengan Tuhan yang kau percaya?
Waktu perlahan mengajarkanku
bahwa cinta tak selalu berarti memiliki.
Ada seseorang yang begitu ingin kugenggam,
tetapi justru harus kulepaskan
agar keyakinanku tetap menjadi tempatku berpulang.
Aku takut,
jika cinta ini kupaksakan menjadi milik kita,
aku justru sedang melangkah
melawan sesuatu yang selama ini kuimani.
Dan mungkin kau pun memiliki jalanmu sendiri,
dengan Tuhan dan keyakinanmu
yang harus kau jaga.
Maka biarlah cinta ini tetap menjadi cinta.
Tak perlu dipaksa menjadi sebuah ikatan,
tak perlu dipaksa untuk memiliki akhir
yang tidak mampu kita tentukan.
Sebab pada akhirnya,
aku mencintaimu,
tetapi imanku tak merestui kita.
Dan mungkin,
inilah cara Tuhan mengajarkanku
bahwa mencintai seseorang
tak selalu berarti harus bersama
Tangerang, 09 Agustus 2026