Karya: RIKO FEBRIAN DWI PUTRA
Di bawah rona langit yang sama,
jemari kita mengepal, meraba lara.
Meski aksara lidah berbeda membaca rindu,
tiap sujud bermuara di satu sumbu.
“Kita adalah puing yang berserak,namun luluh dalam perekat minyak-wangi doa.”
Malam memeluk sunyi yang panjang,
ketika ego runtuh, tersapu bentang.
Bukan bait mantra yang membuat kita megah,
tapi tunduk yang sama saat dunia rebah.
Di bait ini kita lebur,
menolak pecah, menolak hancur.
Sebuah tali gaib mengikat rasa,
membasuh perih seluruh bangsa.
Tuhan, dengarlah gemuruh pasrah kami,
“Saat ribuan lutut menyentuh bumi,sekat-sekat roboh berubah menjadi harmoni."
Lampung barat, 27 Agustus 2026