Karya: Selvia Pasaribu
Dia datang tanpa janji,
tanpa mengetuk pintu yang lama terkunci.
Namun ia membawa jarum dan benang waktu,
menjahit satu persatu luka yang pernah kubiarkan terbuka.
Tangannya begitu sabar,
menyulam kembali bagian diriku yang sempat percaya bahwa tidak semua luka menemukan cara untuk sembuh.
Di setiap simpul benang,
ia mengajariku tentang rindu,
bahwa rindu tidak selalu harus dimiliki,
kadang cukup disimpan sebagai kenangan yang pernah membuat hati merasa hidup.
Namun kini...
Jarumnya entah dimana berada,
benangnya terputus ditengah cerita yang belum selesai.
Dan aku masih duduk disini dengan dada yang belum sepenuhnya utuh,
menatap jahitan-jahitan lama yang perlahan mulai menjadi bekas.
Mungkin kamu sedang sibuk menjalani hidupmu sendiri,
dengan hari-hari yang tak lagi menyertakan namaku di dalamnya.
Sedangkan aku,
masih menyimpan pola jahitanmu di sudut yang paling sunyi,
bukan karena aku ingin menunggumu,
tetapi karena ada bagian dari diriku yang pernah tumbuh bersamamu.
Medan, 27 Agustus 2026