Suci - Iman tak sama (LCP 48)

📅 09 Agustus
Dibaca: Memuat...

Iman tak sama

Karya: Suci



Aku tidak pernah memilih untuk hidup di dunia yang penuh dengan perbedaan. Namun, semakin aku bertumbuh, semakin aku mengerti bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup, keyakinan, dan cara memandang kehidupan yang tidak selalu sama. Perbedaan itu nyata, dan terkadang terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.

Ketika pertama kali menyadari bahwa iman kita berbeda, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam hati. Bukan karena aku membenci perbedaan itu, melainkan karena aku takut perbedaan akan mengubah cara kita saling memandang. Aku takut rasa hormat berubah menjadi jarak, dan kedekatan berubah menjadi keheningan.

Aku tidak pernah ingin memaksamu mempercayai apa yang kuimani. Begitu pula aku berharap tidak ada yang memaksaku meninggalkan apa yang menjadi keyakinanku. Karena iman bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan tempat hati bersandar ketika hidup terasa berat dan dunia seolah tidak lagi memberikan kekuatan.

Sering kali manusia lupa bahwa di balik perbedaan keyakinan, kita memiliki air mata yang sama. Kita sama-sama pernah merasa kehilangan, pernah kecewa, pernah takut, dan pernah memohon pertolongan kepada Tuhan menurut keyakinan masing-masing. Rasa sakit tidak memilih agama, begitu pula harapan.

Yang paling menyedihkan bukanlah karena iman kita tidak sama. Yang paling menyedihkan adalah ketika perbedaan itu membuat orang-orang berhenti saling menyapa, berhenti saling membantu, bahkan mulai saling menyakiti dengan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Padahal dahulu mereka pernah tertawa bersama tanpa mempersoalkan apa yang mereka yakini.

Aku percaya bahwa menghormati tidak berarti harus mengubah keyakinan. Menghormati adalah mampu menjaga sikap, menjaga ucapan, dan tetap memperlakukan orang lain dengan baik meskipun kita berjalan di jalan yang berbeda. Kebaikan tidak kehilangan nilainya hanya karena diberikan kepada seseorang yang berbeda dengan kita.

Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling menjauh? Bukankah dunia ini diciptakan dengan begitu banyak warna agar manusia belajar memahami, bukan saling membenci? Bukankah hati akan terasa lebih damai jika dipenuhi kasih daripada dipenuhi prasangka?

Jika suatu hari langkah kita tidak lagi searah karena keyakinan yang berbeda, aku berharap tidak ada kebencian yang tinggal di antara kita. Biarlah kenangan baik tetap hidup, dan biarlah rasa hormat tetap tumbuh. Karena tidak semua perpisahan harus diakhiri dengan permusuhan.

Aku akan tetap mendoakanmu dengan caraku, dan mungkin kamu juga akan berdoa dengan caramu. Meski doa kita berbeda, semoga isi hati kita sama, yaitu menginginkan kebaikan, kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan bagi sesama manusia.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa iman kita memang tak sama, tetapi kemanusiaan mengajarkan kita untuk tetap saling menghargai. Perbedaan tidak harus menghapus kasih, tidak harus memadamkan kepedulian, dan tidak harus memisahkan hati yang pernah saling berbuat baik. Semoga kita selalu mampu menjaga rasa hormat, sebab pada akhirnya yang akan dikenang bukanlah seberapa keras kita memperdebatkan perbedaan, melainkan seberapa tulus kita memperlakukan sesama manusia dengan kasih dan kebaikan.


Mesuji,8 Agustus 2026