Karya: Ulfiatul Fitriah
Genggam tanganmu terasa hangat,
Menyebar kehangatan di tengah lelah.
Saat gema suara memanggil jiwa,
Langkah kita berhenti di persimpangan doa.
Kau melangkah ke keheningan altar,
Aku melangkah menatap kubah yang benderang.
Dua jalan yang kita lewati sama-sama benar,
hanya saja arah sujud kita yang tak sebidang.
Tuhan yang yang kita panggil mungkin sama agungnya,
Tetapi cara mewariskan batas tetap nyata.
Bukan karena rasa yang mulai pudar,
melainkan bentuk pengabdian yang tak bisa ditukar.
Bila esok kita harus saling melepaskan,
bukan berarti cinta ini sebuah kesalahan.
Sebab mencintai paling tulus adalah merelakan,
menjaga iman masing-masing tetap teguh berkibar.
Aceh, 29 agustus 2026