Karya: Yosepina Supina
Sebelum orang-orang bangun, ada satu api yang sudah menyala,
milik ibu yang berdiri sendiri di depan kompor tua,
tanpa pernah bertanya siapa yang akan makan pagi ini.
Ia hanya tahu satu tugas:
menghangatkan,
agar tak ada yang berangkat
dengan perut kosong dan hati dingin.
Begitu pula doa bekerja
menyala di dada siapa saja
yang takut kehilangan arah:
petani yang menyebut nama Tuhannya,
anak rantau yang menghitung hari libur.
Api tak bertanya siapa yang lapar.
Doa pun begitu,
tak bertanya bahasa apa
yang dipakai hati saat gentar.
Kita sering sibuk menghitung beda:
kiblat, keyakinan, cara menyebut Ilahi.
Padahal yang kita takuti sama:
kehilangan arah dan alasan percaya
bahwa esok layak dijalani.
Di titik itulah doa kita bertemu,
seperti api yang tak pernah memilih siapa yang disentuhnya,
menghangatkan langkah kita pulang.
Sekadau,26 Agustus 2026