Karya: Zahira salsabila
Tangan yang digenggam dan tangan yang menadah
bagaikan bumi memeluk langit, tak pernah benar-benar bersentuhan, namun saling merindu sepenuh jiwa.
Seperti susu yang menyatu dengan air, namun tak memiliki rasa yang sama — kita dekat, namun tak serupa.
Tembok besar yang tak kasat mata akankah kita bisa menembusnya?
Ia tegak bagaikan gunung Meru, tak tergoyahkan oleh badai waktu, tak terkikis oleh hujan kerinduan.
Ia berdiri di antara kita — tebal, dingin, tak bernama — terbuat dari perbedaan yang sedalam samudera dan setinggi cakrawala.
Apakah sayap kasih ini cukup kuat untuk terbang melintasinya?
Apakah cinta kita salah?
apakah cinta kita bisa bersama selamanya?
Hening adalah jawaban yang kembali memantul, seperti gema di lembah sunyi.
Apakah hati yang tulus bisa berdosa hanya karena jalan yang berbeda arah?
Ataukah kita hanyalah dua bintang yang bersinar terang, namun berputar pada poros yang takkan pernah bertemu?
Sungguh gila kita hidup di dunia ini
seperti api dan air yang saling mendambakan, namun jika bersatu, keduanya akan lenyap.
Kita mencintai dengan segenap kalbu namun terusir dari taman tempat kita ingin berlabuh.
Kita berjalan di atas tali yang tipis, di antara harapan yang tipis dan kenyataan yang tajam.
Sampai kita bingung dengan arah kilatnya
petir keraguan menyambar-nyambar di langit dada, membelah asa yang mulai rapuh.
Dunia berputar tanpa arah, seperti kapal yang kehilangan kompas di tengah badai malam.
Kita saling memandang, namun tak mampu berkata — karena setiap kata yang terucap hanya menambah luka yang menganga.
Entah sampai kapan kita akan bertahan dengan perbedaan yang mustahil untuk bersatu
setiap detik terasa seperti satu yuga yang tak berujung, panjang dan menyakitkan.
Kita seperti bunga yang mekar di malam hari, namun tak boleh disentuh oleh sinar matahari pagi.
Semakin kita saling mendekat, semakin tebal bayang-bayang perbedaan itu jatuh di antara kita.
Namun melepaskan pun terasa seperti memisahkan jiwa dari raga — mustahil dan mematikan
Aku tidak akan merebut kamu dari Tuhanmu
karena di atas segala cinta, ada Kasih yang lebih Agung — Tuhan, Sang Pemilik segala jiwa.
Aku takkan menjadi penghalang di jalanmu menuju-Nya, takkan menarik tanganmu dari sujud dan doamu.
Biarkan imanmu tetap tegak bagaikan gunung kediaman dewa yang tak terguncang angin dunia.
Biarkan keyakinanmu menjadi cahaya yang menuntunmu pulang — aku takkan memadamkannya, walau sedetik pun.
Aku hanya akan menjadi bisikan doa yang terbang di sepertiga malam, tanpa suara, tanpa nama.
Seperti nadi yang mengalir perlahan menuju samudera, meski jalannya berbelok dan berliku.
Aku percaya, di tangan-Nya yang Maha Luas, takdir dua hati yang berbeda arah pun bisa dianyam menjadi satu benang yang sama.
Bukan karena aku memaksamu, bukan karena kau mengubahku —
tapi karena Dia yang mengatur waktu dan waktu, yang tahu kapan tembok tinggi itu akan runtuh dengan sendirinya.
Dan sampai saat itu tiba —
aku akan tetap di sini, mencintaimu dalam diam, menghormatimu dalam sabar,
dan menyerahkan semuanya kepada-Nya —
karena cinta yang tulus tak pernah memaksa, ia hanya percaya dan menunggu.
Sidoarjo, 28 Agustus 2026