Pulang tanpa kunci
Karya: Embun Dethasya KinaraAku pernah memiliki sebuah rumah
yang tidak terbuat dari dinding,
melainkan dari suara yang selalu menyebut namaku
tanpa pernah lelah.
Namun aku pergi.
Bukan karena rumah itu runtuh,
bukan pula karena pintunya terkunci,
tetapi karena aku terlalu sibuk mencari langit
hingga lupa bahwa teduh
pernah tumbuh di bawah kakiku sendiri.
Hari-hari kemudian berjalan
seperti kereta yang tak mengenal stasiun.
Aku berdiri di peron,
menggenggam tiket bernama penyesalan,
sementara kereta masa lalu
perlahan menghilang
membawa sesuatu yang baru kusadari harganya
setelah tak lagi bisa kubeli.
Betapa lucunya manusia—
kita sering menyakiti sesuatu
demi membuktikan bahwa kita tidak membutuhkannya,
lalu menghabiskan bertahun-tahun
untuk merindukan apa yang telah kita buang.
Kini, jika malam bertanya
apa yang paling ingin kuubah,
aku tidak akan meminta kembali waktuku.
Aku hanya ingin kembali
pada satu detik sebelum kepergian itu,
sebelum kata-kata menjadi pisau,
sebelum diam menjadi tembok,
sebelum seseorang yang kucintai
belajar hidup tanpa kehadiranku.
Sebab akhirnya aku mengerti:
penyesalan bukan tentang ingin mengulang masa lalu,
melainkan tentang mengetahui
bahwa dahulu kita memiliki kesempatan
untuk menjaga sesuatu tetap utuh
dan kita sendiri
yang memilih untuk memecahkannya.
Sekarang, rumah itu masih ada
di suatu sudut ingatan.
Hanya saja,
aku sudah tidak memiliki kunci
untuk pulang.
Batam,16 september 2026